Jumat, 14 November 2008

RUUAPP

Hingar bingar pro kontra terhadap pengesahan RUU APP, dalam konteks daerah Banten yang bermotokan Iman dan Taqwa, maka HH berpandangan bahwa warga Banten mutlak hukumnya mendukung pengesahan RUU tersebut. Banten dalam kesejarahannya sangat kental dengan identitas dan simbol keagamaan maka menjadi konsekuensi logis untuk selalu mendukung produk kebijakan yang bertujuan menghindari kemafsadatan.
Tanpa mengurangi rasa toleransi pada yang berbeda pendapat, HH melihat bahwa RUU tersebut merupakan sebuah keinginan positif untuk menjaga, menghindari dan meminimalisir dampak pornografi yang sudah sangat masif, dan ini kalau mau jujur hampir semua mengakui. Tengok saja hasil penelitian beberapa tahun yang lalu;
Survei BKKBN 39,63 % anak remaja usia 15-24 tahun di enam kota di Jawa Barat, pernah berhubungan seks sebelum nikah. 80 % anak usia 9-12 tahun di Jabodetabek sudah mengakses materi pornografi. Dan materi pornografi ini tersebar bebas dan mudah diakses dalam media;VCD, internet, Handphone& majalah.
Dan di Banten, VCD porno, internet, handphone, majalah, bukan barang yang sulit di cari.

Kamis, 13 November 2008

Visi dan Misi

Visi dan Misi H. Humaedi Hasan dalam membangun komunikasi dengan masyarakat, sebagai bagian dari sosialisasi pandangan-pandangannya sebagai Calon DPD Banten.

Visi:


Dengan semangat bergotong royong mewujudkan masyarakat Banten sejahtera dan bermartabat

Misi
  1. Menumbuhkan Rasa Syukur kepada Yang Maha Kuasa; dengan landasan rasa syukur terhadap Tuhan Yang Maha Kuasa menciptakan optimisme dalam berkarya dan menghargai karya.
  2. Membangun kesadaran sebagai wakil tuhan (Khalifah fil ardl); membimbing hidup bertanggungjawab terhadap diri sendiri, keluarga, masyarakat, bangsa dan alam
  3. Mendorong tumbuh dan berkembangnya partisipasi soaial masyarakat dalam pembarantasan buta huruf dan kemiskinan; memfasilitasi kemudahan akses terhadap buku, membangun jaringan Rumah Baca, membuka peluang ekonomi dari, oleh dan untuk masyarakat.
  4. Mendorong kesadaran diri dan masyarakat untuk bertindak dan bertingkahlaku sesuai dengan keyakinannya; mendorong toleransi dan menghargai perbedaan-perbedaan yang bertanggngjawab dan bisa dipertanggungjawabkan.
  5. Membumikan landasan kasih sayang dalam berbagai akvitas kehidupan; menjauhi saling curiga, rasa bermusuhan dan saling menyalahkan.

29 Oktober 2008 Selamat Datang Tangsel

Dalam kapasitasnya sebagai orang yang mempunyai tempat tinggal di Ciputat, H. Humaedi Hasan mengungkapkan kegembiraannya atas terbentuknya kota Tangsel menjadi daerah otonom. Diharapkan setelah menjadi daerah otonom Tangsel akan mampu berbenah diri, membangun kemandirian dan sejajar dengan daerah-daerah maju lainnya.

"Dengan penuh rasa Syukur,
kita sambut terbentuknya kota Tangsel
Mari bersama membangun karya."

Menurut HH, setelah disahkan, menjadi daerah otonom baru hasil pemekaran dari kabupaten Tanggerang, kota Tangsel (Tangerang Selatan) yang meliputi delapan kecamatan: Ciputat, Ciputat Timur, Setu, Cisauk, Pondok Aren, Serpong, Serpong Utara dan Pamulang) hal yang harus segera dilakukan di antaranya:
Pertama: Melakukan penguatan kelembagaan Tangsel
Kedua : Melakukan posisioning; sekarang Tangsel ada di mana.
Dua tahun ke depan di mana dan mau ke mana.
Ketiga : Sosialisasikan kepada masyarakat

Rabu, 12 November 2008

28 Oktober, 100 tahun Kebangkitan Indonesia

Banyak pendapat dan pandangan berkaitan dengan momentum 100 tahun kebangkitan bangsa Indonesia. Ketika hal ini ditanyakan kepada H. Humaedi Hasan, beliau mengatakan bahwa tahun 2008 menjadi momen penting bagi kita untuk memprakarsai sebuah kebangkitan baru. Jika momen 1908 menyemaikan cita-cita kemerdekaan, 1928 mempertegas, 1945 mewujudkan cita-cita itu, maka tahun 2008 dengan mengikuti alur sejarah “continuity and change”, maka peran yang harus dimainkan harus melintasi sekaligus tiga zaman, masa lalu, masa kini dan masa depan, yakni perpaduan kesadaran historis, kesadaran realistik, dan kesadaran futuristik, membentuk segitiga utuh. Kesadaran historis semata akan melahirkan romantisme. Hanya ada kesadaran realistik akan melahirkan pragmatisme. Kesadaran futuristik, yang lahir adalah pemimpi. Beberapa kekuatan yang harus dibangun:

1. Kebangkitan Mental

Sikap mental yang selalu enggan melakukan perubahan, memelihara pola pikir yang negatif, selalu mengatakan tidak bisa, pasti gagal, kemalasan, ketidakdisiplinan, iri hati, atau bahkan kehilangan kepercayaan diri sebagai bangsa yang besar adalah sebagian besar karakter yang harus dihancurkan. Mendesak untuk membangun sebuah kebangkitan mental yang baru. Sebuah mental untuk memberikan yang terbaik kepada bangsa ini lewat peran dan karya masing-masing anak bangsa.

2. Kebangkitan Semangat dan Kebersamaan
Situasi apapun yang pernah melanda bangsa ini, tidak seharusnya mengecilkan semangat kita semua untuk tetap bangkit dan menjadi bangsa yang besar. Semangat untuk berjuang dan meraih yang terbaik di segala bidang hendaknya menjadi sebuah kultur yang dipedomani oleh segala lapisan masyarakat. Tak sedikit dari kita ketika masalah datang, musibah terjadi, himpitan ekonomi yang ada menciptakan sebuah krisis semangat dan kepercayaan diri menatap masa depan, atau bahkan ironisnya dijadikan momentum untuk saling menyalahkan pihak-pihak terkait. Kebiasaan-kebiasaan seperti ini seharusnya diubah. Sikap sportif dan kerjasama yang sinergislah yang dibutuhkan.

3. Kebangkitan Moral

Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sebuah perbedaan, bangsa yang bisa menghormati satu sama lain, bangsa yang mengedepankan hak asasi manusia, bangsa yang memiliki integritas yang tinggi, bangsa yang menjunjung nilai-nilai yang positif. Bukan saatnya lagi saling menjatuhkan, melakukan tindak kekerasan terhadap kaum lemah, saling menuding, ketidakjujuran, melakukan praktek-praktek korupsi, melakukan pengrusakan, memicu konflik, menutupi kebohongan dari masyarakat. Seseorang tidak hanya dilihat dari sisi intelektual saja, tetapi juga dari sisi bagaimana ia berperilaku dan memiliki sikap yang positif di lingkungan. Begitupun dengan sebuah bangsa, tidak hanya dilihat dari seberapa besarnya sumber kekayaan alamnya, tapi juga dilihat pribadi-pribadi di dalam sebuah bangsa itu sendiri bagaimana ia berperilaku. Integritas dan karakter bangsa akan dibangun oleh individu-individu didalamnya, yakni individu-individu yang berpijak pada tiga komponen karakter yaitu moral knowing (pengetahuan tentang moral), moral feeling (perasaan tentang moral) dan moral action (perbuatan moral). Mari bersama kita bangkit dengan membangun sebuah bangsa yang beretika baik dan memiliki karakter kompetensi (competence), keinginan (will) dan kebiasaan (habit).

Jalan bangsa ini terbentang panjang, harapan di depan mata terbentang.
Ini bukan pekerjaan satu dua atau golongan, tapi tugas dan tanggung
jawab kita semua.

10 Nopember, Quo Vadis Pahlawan !

Setiap tanggal 10 Nopember, bangsa Indonesia memperingati hari pahlwan. Upacara rutin mengenang tokoh-tokoh pendiri bangsa yang telah tiada dan para pejuang yang telah gugur diadakan di berbagai sekolah dan instansi pemerintah, termasuk di istana kepresidenan. Setiap tanggal 10 Nopember, penganugerahan gelar Pahlawan diberikan kepada tokoh-tokoh atau pejuang yang dianggap berjasa bagi bangsa. Pahlawan kita setiap tahun menjadi bertambah.
Humaedi Hasan, ketika ditanya bagaimana tanggapannya tentang pahlawan mengatakan, bahwa dalam konteks kekinian, bangsa kita sedang menunggu hadirnya pahlawan-pahlawan nyata. Di tengah berbagai persoalan yang melanda bangsa kita, mendesak muncul pahlawan-pahlawan yang membawa, memberi dan melakukan solusi.Yang terpenting, karena akar dari keterpurukan bangsa adalah mental korup, maka yang layak disebut pahlawan adalah kalangan yang membebaskan diri dan bangsanya dari mental korup.
Quo Vadis Pahlawan !

Ucapan Selamat untuk KPU, KPUD, para Caleg dan Calon DPD

Sejak awal terpilihnya Pengurus KPU baru, dari mulai tingkat Pusat sampai daerah, bertubi-tubi kritikan melanda lembaga ini. Mulai dari tuduhan pemborosan, unefisiensi sampai ancaman gagalnya Pemilu 2009. Sedikit kalangan yang memberi apresiasi positif terhadap kinerja KPU. Humaedi Hasan, salah seorang dari yang sedikit itu mengatakan; kita harus realistis dan bijak. Betul pasti banyak kekurangan, tetapi itu tidak harus membuat kita apriori dan selalu berfikir negatif. Beri kesempatan, sekaligus ciptakan suasana dan dukungan kondusif sehingga mereka bisa melaksanakan tugas dengan baik. Kritik diperlukan, tetapi dalam konteks membangun dan menciptakan yang lebih baik. Begitu pula kita perlu memberikan apresiasi positif terhadap kinerja yang telah dihasilkan. Meski sangat mungkin ada kekurangan dan membawa ketidakpuasan. Dalam kaitan ini, Humaedi Hasan dengan tulus memberikan ucapan selamat atas apa yang telah berhasil dikerjakan oleh KPU dalam mempersiapkan tahapan-tahapan Pemilu.

Selamat,
atas penetapan Daftar Calon tetap (DCT) DPR, DPD, DPRD Propinsi dan DPRD Kabupaten/kota. Semoga KPU dan KPUD seluruh Indonesia selalu sukses dalam menjalankan tahapan-tahapan kegiatan Pemilihan Umum.

Selamat,
bagi calon-calon yang telah ditetapkan, semoga terpilih dan dalam menjalankan tugas nanti mendapat penilaian baik dari rakyat Indonesia.

Suara rakyat, suara kedaulatan. Untuk Indonesia kita dipilih dan memilih.


Humaedi Hasan

Kamis, 06 November 2008

Pondok Modern Indonesia

Humaedi Hasan adalah alumni Pondok Pesantren Modern Gontor Ponorogo Jawa Timur angkatan 1980. Pada acara "Silaturahmi dan Temu Kangen IKPM (Ikatan keluarga Pondok Modern) Gontor yang diadakan di aula Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Syarif Hidayatullah Jakarta berbicara di hadapan para alumni santri Gontor tentang harapannya membangun "Pondok Modern Indonesia". Menurutnya, Pondok Modern Gontor adalah miniatur sebuah bangsa yang, adil, egaliter dan menghargai pluralitas. Para santri belajar nilai-nilai kejujuran, persamaan, keadilan, kebaikan universal dan keberpihakan pada kebenaran. Dengan mengutip wasiat dari KH. Imam Zarkasyi bahwa "Gontor di atas dan untuk untuk semua golongan", Humaedi Hasan menegaskan bahwa wasiat ini dimaknai sebagai pondasi untuk membangun kesatuan dan persatuan. Dalam kaitan ini, HH mengatakan, para alumni santri Gontor, dengan sebarannya yang sangat luas meliputi seluruh pelosok Nusantara, Asia Tenggara, bahkan dunia, sudah saatnya bersatu "Membangun Pondok Modern Indonesia". Sebuah spirit kebangsaan yang memposisikan rakyatnya dengan adil, sama di mata hukum, egaliter, mandiri dan kreatif. Sebuah negara yang berada di atas dan untuk semua.
Site Meter